Home › Insights › Insights & Opinion › Ketika Pidato Kiai Hasan Menjadi Cermin bagi Kita
Insights

Ketika Pidato Kiai Hasan Menjadi Cermin bagi Kita

23 Sep 2026
8 mnt baca
90 dibaca

Refleksi seorang alumni Gontor Ahmarian 62001 (Red Century 2001) yang bekerja di bidang pemasaran dan pendidikan vokasi

Oleh Ahmad Madani

Pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal pada resepsi kesyukuran 100 Tahun Gontor menjadi salah satu pembicaraan yang cukup luas dalam beberapa hari terakhir.

Sebagian orang memperbincangkan keberanian beliau berbicara secara lugas di hadapan Presiden, para tamu kehormatan, santri, serta ribuan alumni. Sebagian lainnya menyoroti potongan-potongan pidato yang beredar di media sosial, terutama bagian yang menyentuh soal kesederhanaan, kepemimpinan, amanah, dan kebiasaan manusia yang senang mencari pengakuan.

Namun sebagai alumni Gontor, saya merasa bahwa pidato tersebut terlalu berharga jika hanya dinikmati melalui potongan video yang viral.

Saya mencoba mendengarkannya sebagai sebuah pesan utuh.

Bukan untuk mencari siapa yang disindir.

Bukan untuk menafsirkan siapa yang dimaksud.

Tetapi untuk melihat apa yang sebenarnya ingin dijaga oleh Gontor ketika memasuki abad keduanya.

Dan bagi saya, pesan terkuat dari pidato tersebut justru mengarah kepada diri sendiri.

Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Ada jenis pertanyaan yang mudah dijawab.

Ada pula pertanyaan yang tidak nyaman karena jawabannya menuntut kejujuran.

Ketika mendengar pidato Kiai Hasan, saya merasa sedang diajak menghadapi pertanyaan jenis kedua.

Apakah ketika mendapatkan amanah saya masih bersedia menerima kritik?

Apakah ketika memiliki jabatan saya masih mampu hidup sederhana?

Apakah ketika berbicara tentang pengabdian, ada orang lain yang benar-benar merasakan manfaatnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak membutuhkan jawaban di podium.

Pertanyaan itu membutuhkan jawaban dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai alumni Ahmarian 62001, saya merasakan bahwa seperempat abad setelah meninggalkan pondok, pertanyaan tersebut justru menjadi semakin relevan.

Kesederhanaan Bukan Sekadar Penampilan

Banyak orang memaknai kesederhanaan dari apa yang terlihat.

Cara berpakaian.

Kendaraan yang digunakan.

Tempat tinggal.

Namun saya memaknai kesederhanaan dalam arti yang lebih luas.

Kesederhanaan adalah kemampuan menjaga jarak antara seorang pemimpin dan orang yang dipimpinnya agar tidak terlalu jauh.

Pemimpin yang sederhana tetap mengetahui bagaimana keadaan orang-orang yang dipimpinnya.

Ia mau mendengarkan.

Ia tidak kehilangan kepekaan.

Ia tidak hidup di dalam ruang yang hanya berisi pujian.

Karena itu, ketika Kiai Hasan berbicara tentang kesiapan untuk diprotes apabila hidup lebih mewah dibanding para santri, saya menangkapnya sebagai pesan tentang akuntabilitas.

Bahwa pemimpin harus siap diperiksa.

Bahwa amanah harus dapat dipertanggungjawabkan.

Bahwa penghormatan tidak boleh membuat seseorang kebal terhadap kritik.

Ketika Nilai Gontor Bertemu Dunia Profesional

Saya bekerja di bidang pemasaran dan pendidikan vokasi.

Dua bidang yang sama-sama sangat dekat dengan manusia.

Di dunia pemasaran, kita belajar membangun citra, menyampaikan pesan, dan memperoleh kepercayaan.

Kita belajar membuat orang tertarik.

Kita belajar menjangkau lebih banyak audiens.

Namun semakin lama saya bekerja, semakin saya menyadari satu hal.

Kepercayaan tidak dibangun ketika orang tertarik melihat kita.

Kepercayaan dibangun setelah mereka mengenal pekerjaan kita.

Orang bisa terkesan oleh sebuah presentasi.

Mereka bisa mengagumi sebuah kampanye.

Mereka bisa mengikuti akun media sosial kita.

Tetapi pada akhirnya mereka akan bertanya:

Apakah hasilnya sesuai dengan yang dijanjikan?

Apakah kita tetap hadir ketika muncul masalah?

Apakah kita bersedia mendengar ketika ada kritik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar seberapa banyak orang mengenal nama kita.

Pengabdian Harus Terlihat dari Dampaknya

Pertanyaan yang sama sering saya bawa ketika mengunjungi sekolah-sekolah vokasi.

Saya bertemu siswa yang sedang belajar menjual produk.

Belajar membuat konten.

Belajar mempresentasikan ide.

Belajar memasuki dunia kerja.

Mereka tentu membutuhkan motivasi.

Tetapi motivasi saja tidak cukup.

Mereka membutuhkan kesempatan untuk mencoba.

Mereka membutuhkan ruang untuk melakukan kesalahan.

Mereka membutuhkan orang yang bersedia mendampingi ketika proses itu berlangsung.

Karena itu saya selalu percaya bahwa ukuran keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada materi yang disampaikan.

Ukuran keberhasilannya ada pada perubahan yang dialami siswa.

Apakah siswa yang dulu takut berbicara kini berani menyampaikan pendapat?

Apakah siswa yang dulu ragu menawarkan produk kini berani memulai percakapan?

Apakah mereka mulai memahami bahwa menjual bukan sekadar membujuk, tetapi membantu orang lain menemukan solusi?

Di situ saya melihat hubungan yang sangat kuat antara pesan Kiai Hasan dengan pekerjaan yang saya jalani hari ini.

Menjual Bukan Mencari Muka

Salah satu persoalan yang sering saya temui ketika mengajarkan sales adalah anggapan bahwa kemampuan berbicara berarti kemampuan mencari perhatian.

Padahal tidak demikian.

Sales yang baik bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara.

Sales yang baik adalah tentang siapa yang paling mampu memahami kebutuhan orang lain.

Seorang penjual boleh memiliki kemampuan presentasi yang baik.

Ia boleh percaya diri.

Ia boleh tampil meyakinkan.

Tetapi semua itu harus berdiri di atas fondasi kejujuran dan kompetensi.

Tanpa keduanya, perhatian yang diperoleh hanya bersifat sementara.

Kepercayaan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk dibangun.

Dan sekali rusak, kepercayaan sangat sulit dikembalikan.

Pengetahuan Harus Menjadi Karya

Pada resepsi 100 Tahun Gontor, pondok juga mempersembahkan berbagai karya, termasuk Mushaf Gontor dan buku Gontor untuk Indonesia.

Bagi saya, hal tersebut mengirimkan pesan yang sederhana tetapi kuat.

Nilai pendidikan tidak boleh berhenti sebagai hafalan.

Nilai pendidikan harus melahirkan karya.

Hal yang sama berlaku untuk para alumni.

Kita boleh bangga menjadi bagian dari sejarah Gontor.

Namun kebanggaan itu tidak cukup jika tidak diterjemahkan menjadi kontribusi.

Pada akhirnya masyarakat tidak mengenal kita karena angkatan berapa kita lulus.

Masyarakat mengenal kita karena apa yang kita lakukan setelah lulus.

Seratus Tahun yang Menjadi Refleksi Pribadi

Bagi saya pribadi, peringatan 100 Tahun Gontor bukan sekadar momentum nostalgia.

Ini adalah kesempatan untuk melakukan evaluasi.

Dua puluh lima tahun adalah waktu yang cukup panjang.

Panjang untuk mengenang masa belajar.

Tetapi juga cukup panjang untuk menilai apakah nilai yang dahulu dipelajari masih terlihat dalam kehidupan.

Apakah kita masih menjaga kejujuran?

Apakah kita masih menjaga kesederhanaan?

Apakah pekerjaan yang kita lakukan memberikan manfaat bagi orang lain?

Apakah kita masih bersedia belajar?

Apakah kita masih mampu menerima kritik?

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa jauh lebih penting dibanding mencari siapa yang sedang disinggung dalam sebuah pidato.

Penutup

Saya bersyukur pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal didengar oleh banyak orang.

Namun saya berharap perhatian tersebut tidak berhenti pada potongan video yang paling ramai dibicarakan.

Bagi saya, pesan yang paling kuat justru bukan tentang siapa yang sedang dikritik.

Pesan yang paling kuat adalah ajakan untuk bercermin.

Ajakan untuk memeriksa kembali cara kita memimpin.

Cara kita bekerja.

Cara kita mendidik.

Cara kita mengabdi.

Sebagai alumni Ahmarian 62001, saya memaknai 100 Tahun Gontor bukan hanya sebagai perayaan sejarah.

Saya memaknainya sebagai pengingat bahwa sejarah berikutnya sedang ditulis oleh setiap alumni melalui pekerjaan dan pengabdiannya masing-masing.

Sejarah Gontor akan terus berjalan.

Dan bagian kita adalah menjawabnya melalui karya, integritas, serta manfaat yang kita tinggalkan bagi orang lain.


FAQ

Siapa K.H. Hasan Abdullah Sahal?

K.H. Hasan Abdullah Sahal adalah salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang dikenal aktif menyampaikan gagasan tentang pendidikan, kepemimpinan, dan pengabdian.

Mengapa pidato 100 Tahun Gontor banyak diperbincangkan?

Karena pidato tersebut menyampaikan pesan yang lugas mengenai kepemimpinan, kesederhanaan, amanah, dan tanggung jawab sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Apa makna kesederhanaan dalam refleksi ini?

Kesederhanaan tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup, tetapi juga kemampuan pemimpin untuk tetap dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya dan bersedia menerima kritik.

Apa hubungan pidato tersebut dengan dunia pemasaran?

Kepercayaan, integritas, dan kesesuaian antara kata-kata dengan tindakan merupakan fondasi penting dalam membangun reputasi dan hubungan jangka panjang dengan masyarakat maupun pelanggan.

Mengapa pengabdian menjadi tema penting?

Karena nilai pendidikan dan kepemimpinan pada akhirnya perlu diwujudkan dalam karya nyata yang memberi manfaat bagi orang lain, bukan hanya menjadi slogan atau narasi semata.

Artikel Terkait