Home › Insights › Pendidikan Vokasi & SMK › Tidak Ada Jurusan Pemasaran, tetapi Semua Siswa Perlu...
Insights

Tidak Ada Jurusan Pemasaran, tetapi Semua Siswa Perlu Belajar Menjual

14 Sep 2026
8 mnt baca
41 dibaca

Tidak Ada Jurusan Pemasaran, tetapi Semua Siswa Perlu Belajar Menjual. Setelah menyelesaikan kegiatan di SMKN 1 Jombang pada 14 September 2026, saya melanjutkan perjalanan menuju SMK Negeri Kabuh, Jombang.

Sekilas, kunjungan ini mungkin terlihat berbeda dibandingkan sekolah-sekolah yang sering saya datangi. SMK Negeri Kabuh tidak memiliki jurusan Pemasaran. Program keahlian yang ada lebih dekat dengan dunia teknik, laboratorium, kesehatan, dan teknologi, seperti Teknik Kimia Industri, Farmasi Industri, Analisis Pengujian Laboratorium, serta Sistem Informasi, Jaringan, dan Aplikasi.

Lalu mengapa saya datang ke sekolah yang tidak memiliki jurusan Pemasaran?

Jawabannya sederhana.

Karena kemampuan menjual tidak hanya dibutuhkan oleh siswa Pemasaran.

Pertemanan yang Dipertemukan oleh Dunia Pendidikan

Kunjungan ke SMK Negeri Kabuh tidak dapat dilepaskan dari sosok Ibu Ika Fariana Afan, S.Pd., M.Pd., Kepala SMK Negeri Kabuh.

Saya mengenal beliau sejak cukup lama melalui berbagai kegiatan pendidikan vokasi dan pengembangan kompetensi pemasaran di SMK. Sebelum memimpin SMK Negeri Kabuh, beliau mengabdikan diri di SMKN 1 Jombang sebagai guru produktif, Ketua Konsentrasi Keahlian Pemasaran, hingga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Beliau juga menjadi salah satu guru yang berhasil mengantarkan SMKN 1 Jombang meraih prestasi pada LKS-SMK Tingkat Nasional bidang Pemasaran tahun 2022.

Karena itulah, ketika berkesempatan berada di Jombang, saya menyempatkan diri untuk berkunjung dan berbagi bersama para siswa.

Waktunya memang tidak panjang.

Hanya sekitar tiga puluh menit.

Namun sering kali sebuah percakapan singkat mampu meninggalkan pemikiran yang bertahan jauh lebih lama.

“Pak, Kami Bukan Anak Pemasaran”

Salah satu pertanyaan yang secara tidak langsung muncul dalam sesi tersebut adalah:

Apa hubungan sales dengan siswa Teknik Kimia Industri, Farmasi, Analisis Laboratorium, atau Sistem Informasi?

Pertanyaan ini sangat wajar.

Banyak orang masih memandang sales sebagai profesi yang terbatas pada kegiatan menawarkan produk dan mengejar target penjualan.

Padahal sales jauh lebih luas dari itu.

Sales adalah kemampuan memahami kebutuhan orang lain, menjelaskan nilai, membangun kepercayaan, menawarkan solusi, dan membantu seseorang mengambil keputusan.

Kemampuan tersebut dibutuhkan hampir di setiap bidang pekerjaan.

Ketika Teknik Tetap Membutuhkan Kemampuan Menjual

Bayangkan seorang lulusan Teknik Kimia Industri yang berhasil mengembangkan formulasi produk yang lebih efisien.

Kemampuan teknis tentu sangat penting.

Namun kemampuan itu belum cukup jika ia tidak mampu menjelaskan manfaat, keamanan, dan nilai ekonomis dari inovasi yang dibuatnya.

Hal yang sama berlaku pada lulusan Farmasi.

Mereka dapat memahami kandungan dan proses produksi suatu produk kesehatan. Namun mereka tetap perlu berkomunikasi dengan baik agar informasi tersebut dapat dipahami oleh masyarakat maupun pengguna.

Siswa Analisis Pengujian Laboratorium mungkin menghasilkan data yang sangat akurat.

Tetapi data yang baik tetap harus dipresentasikan, dijelaskan, dan dikomunikasikan agar dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Begitu pula siswa Sistem Informasi, Jaringan, dan Aplikasi.

Mereka mungkin mampu membuat aplikasi yang hebat atau membangun sistem yang canggih.

Namun teknologi yang baik tidak otomatis digunakan orang lain.

Mereka perlu mampu menjelaskan masalah apa yang diselesaikan, nilai apa yang diberikan, dan mengapa solusi tersebut layak dipilih.

Produknya boleh berbeda.

Jurusan boleh berbeda.

Karier yang akan ditempuh juga mungkin berbeda.

Namun semuanya membutuhkan kemampuan menjelaskan nilai.

Dan itulah inti dari sales.

Saya Pun Berasal dari Dunia Teknik

Dalam sesi tersebut saya juga berbagi cerita bahwa latar belakang akademis saya bukan pemasaran.

Saya berasal dari dunia teknik.

Namun perjalanan profesional membawa saya ke dunia sales, pemasaran, pendidikan vokasi, pelatihan, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Dari dunia sales saya belajar banyak hal yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas.

Saya belajar mendengarkan sebelum menawarkan.

Saya belajar bahwa produk yang baik belum tentu diterima pasar jika manfaatnya tidak dapat dijelaskan dengan baik.

Saya belajar menghadapi penolakan.

Saya belajar membangun kepercayaan.

Dan saya belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan sesuatu, tetapi juga kemampuan menjelaskan nilai dari sesuatu yang diciptakan.

Tidak Semua Harus Menjadi Sales

Ada satu hal yang saya tekankan kepada para siswa.

Belajar sales tidak berarti semua orang harus bekerja sebagai sales.

Ada perbedaan besar antara bekerja sebagai sales dan memiliki sales skill.

Seseorang bisa menjadi analis laboratorium, programmer, apoteker, teknisi, peneliti, atau wirausahawan tanpa pernah memiliki jabatan sales.

Namun hampir setiap profesi membutuhkan kemampuan menjual.

Saat mengikuti wawancara kerja, kita menjual kompetensi.

Saat mempresentasikan tugas akhir, kita menjual ide.

Saat menawarkan solusi kepada atasan, kita menjual gagasan.

Saat membangun usaha, kita menjual produk dan kepercayaan.

Saat membangun kolaborasi, kita menjual nilai dari kerja sama yang ditawarkan.

Karena itu kemampuan menjual sebenarnya adalah keterampilan hidup.

Sales Adalah Life Skill

Banyak orang berpikir bahwa sales hanya diperlukan untuk mendapatkan pelanggan.

Padahal manfaatnya jauh lebih luas.

Sales membantu seseorang membangun komunikasi yang lebih baik.

Sales melatih kemampuan mendengarkan.

Sales mengajarkan cara memahami kebutuhan orang lain.

Sales juga membantu membangun keberanian menghadapi penolakan dan ketidakpastian.

Semua kemampuan tersebut sangat relevan untuk kehidupan profesional maupun kehidupan sehari-hari.

Bahkan ketika seseorang tidak pernah menjual satu produk pun, kemampuan tersebut tetap membantu membangun hubungan, menyampaikan ide, dan memperluas peluang.

Pendidikan Vokasi Tidak Hanya Menyiapkan Pekerja

Kunjungan singkat di SMK Negeri Kabuh kembali mengingatkan saya bahwa tugas pendidikan vokasi bukan hanya mengajarkan kompetensi teknis.

Sekolah juga perlu membantu siswa membangun keterampilan yang dapat digunakan di berbagai bidang.

Kemampuan komunikasi.

Kemampuan presentasi.

Kemampuan kolaborasi.

Kemampuan memecahkan masalah.

Dan kemampuan menjelaskan nilai dari pekerjaan yang dilakukan.

Karena di dunia kerja, orang tidak hanya dinilai dari apa yang mereka ketahui.

Mereka juga dinilai dari bagaimana mereka menjelaskan, menerapkan, dan mengomunikasikan pengetahuan tersebut.

Tidak Ada Jurusan Pemasaran, Tetapi Tetap Bisa Naik Kelas

Sesi berbagi di SMK Negeri Kabuh berlangsung singkat.

Namun saya berharap ada satu pemahaman yang dapat dibawa pulang oleh para siswa.

Bahwa kemampuan menjual bukan milik satu jurusan tertentu.

Bukan pula milik profesi tertentu.

Kemampuan menjual adalah kemampuan menjelaskan nilai dari diri sendiri, dari ide yang dimiliki, dari solusi yang ditawarkan, dan dari karya yang dihasilkan.

Karena itu, meskipun tidak ada jurusan Pemasaran di SMK Negeri Kabuh, bukan berarti siswa tidak perlu belajar sales.

Justru sebaliknya.

Semakin tinggi kompetensi teknis yang dimiliki, semakin penting kemampuan menjelaskan nilainya kepada orang lain.

Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh apa yang mampu kita kerjakan.

Masa depan juga ditentukan oleh seberapa baik kita membantu orang lain memahami manfaat dari apa yang kita kerjakan.

Karena tidak semua siswa harus menjadi sales.

Tetapi semua siswa perlu belajar menjual ide, solusi, karya, dan kompetensi dirinya.


FAQ

Apakah siswa non-Pemasaran perlu belajar sales?

Ya. Kemampuan sales membantu siswa berkomunikasi, membangun kepercayaan, menjelaskan ide, dan menawarkan solusi dalam berbagai profesi.

Apakah belajar sales berarti harus menjadi tenaga penjualan?

Tidak. Sales skill adalah keterampilan hidup yang dapat digunakan di berbagai bidang pekerjaan, bukan hanya profesi sales.

Mengapa lulusan teknik juga membutuhkan sales skill?

Karena inovasi, produk, maupun solusi teknis perlu dijelaskan kepada pengguna, pelanggan, investor, atau pihak yang akan mengambil keputusan.

Apa manfaat sales skill bagi siswa?

Sales melatih komunikasi, keberanian, kemampuan mendengarkan, presentasi, negosiasi, dan membangun hubungan profesional.

Mengapa sales disebut sebagai life skill?

Karena kemampuan menjual ide, solusi, kompetensi, dan nilai diri dibutuhkan hampir di setiap profesi dan tahap kehidupan.

Artikel Terkait