Profesi sales di era AI justru semakin strategis karena penjualan bukan hanya tentang menawarkan produk, tetapi tentang memahami kebutuhan, membangun kepercayaan, menciptakan nilai, dan memanfaatkan teknologi untuk bekerja lebih efektif. Ketika AI mampu mempercepat produksi konten, analisis, dan aktivitas pemasaran, kemampuan manusia dalam berkomunikasi, membangun hubungan, dan menciptakan kepercayaan justru menjadi semakin penting.
“Siapa di sini yang ingin sukses?”
Hampir setiap kali pertanyaan itu saya lontarkan di depan siswa, hampir semua tangan terangkat.
Siapa yang tidak ingin sukses?
Punya penghasilan yang baik.
Membahagiakan orang tua.
Mempunyai rumah.
Mempunyai kendaraan.
Bisa berangkat umrah.
Bisa hidup mandiri.
Semua ingin.
Tetapi kemudian saya lanjutkan dengan pertanyaan lain.
“Siapa yang ingin menjadi sales?”
Situasinya berubah.
Ada yang diam.
Ada yang tertawa.
Ada yang saling menunjuk.
Bahkan tidak jarang ada yang langsung menjawab:
“Ogah, Pak!”
Pengalaman seperti itu kembali saya temui ketika berbagi bersama siswa di SMK Negeri 1 Kebumen dalam sharing session bertema Sales Naik Kelas.
Bagi saya, reaksi tersebut menarik.
Karena di satu sisi hampir semua orang menginginkan sukses.
Namun di sisi lain, salah satu profesi yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan pertumbuhan bisnis justru sering dihindari.
Padahal banyak orang mengagumi hasil yang diperoleh para profesional penjualan.
Sales otomotif yang mampu menjual puluhan bahkan ratusan unit.
Sales properti yang menangani transaksi bernilai besar.
Account executive yang menjual solusi kepada perusahaan.
Business development yang membuka pasar baru.
Sales teknologi yang menawarkan solusi bernilai ratusan juta bahkan lebih.
Kita menyukai hasilnya.
Tetapi sering kali tidak menyukai nama profesinya.
Inilah yang menurut saya harus diubah.
Sales harus naik kelas.
Bukan hanya dalam cara bekerja.
Tetapi terlebih dahulu dalam cara kita memandang profesinya.
Mengapa Profesi Sales Sering Dihindari?
Profesi sales sering dihindari karena masih diasosiasikan dengan pekerjaan yang memaksa orang membeli, mengejar target, menawarkan produk dari pintu ke pintu, atau dianggap sebagai pilihan terakhir ketika tidak mendapatkan pekerjaan lain.
Stigma inilah yang membuat banyak siswa tidak pernah memasukkan sales sebagai pilihan karier.
Mereka lebih mudah mengatakan ingin menjadi:
dokter,
polisi,
programmer,
content creator,
pegawai bank,
atau ASN.
Tetapi ketika mendengar kata sales, bayangannya langsung berbeda.
Dikejar target.
Ditolak pelanggan.
Harus pintar bicara.
Harus menawarkan barang terus-menerus.
Padahal dunia sales jauh lebih luas daripada itu.
Sales profesional bukan sekadar orang yang membawa brosur kemudian meminta orang membeli.
Sales adalah orang yang membantu mempertemukan:
masalah dengan solusi.
kebutuhan dengan produk.
pelanggan dengan nilai.
Karena itu saya ingin siswa melihat sales bukan sebagai pekerjaan buangan.
Saya ingin mereka melihatnya sebagai:
profesi strategis.
Dunia Bisa Berhenti Tanpa Sales
Sales merupakan penghubung antara produk yang diciptakan perusahaan dengan pelanggan yang membutuhkan produk tersebut.
Mari kita melakukan eksperimen sederhana.
Bayangkan mulai hari ini tidak ada lagi sales.
Tidak ada orang yang menawarkan smartphone.
Tidak ada orang yang menjual kendaraan.
Tidak ada tenaga penjualan properti.
Tidak ada orang yang menawarkan internet.
Tidak ada account executive.
Tidak ada business development.
Tidak ada orang yang membawa produk perusahaan menuju pasar.
Apa yang terjadi?
Perusahaan bisa mempunyai produk yang luar biasa.
Teknologinya hebat.
Desainnya bagus.
Produksinya berjalan.
Tetapi jika tidak ada orang yang membantu produk tersebut menemukan pasar, barang dapat berhenti di gudang.
Karena itu saya sering mengatakan:
“Dunia berhenti tanpa sales.”
Mungkin terdengar berlebihan.
Tetapi pesan utamanya sederhana.
Produk tidak cukup hanya dibuat.
Produk harus bertemu orang yang membutuhkan.
Dan proses mempertemukan produk dengan pelanggan merupakan salah satu fungsi utama penjualan.
Itulah mengapa sales bukan sekadar bagian kecil dalam bisnis.
Sales merupakan salah satu mesin yang membuat bisnis terus bergerak.
Sales Hebat Bukan yang Paling Banyak Bicara
Sales profesional tidak harus menjadi orang yang paling cerewet atau paling agresif. Sales yang efektif justru mampu mendengarkan, bertanya, memahami masalah, dan membangun kepercayaan.
Ini adalah salah satu miskonsepsi paling umum.
Banyak siswa berpikir:
“Saya pendiam, berarti saya tidak cocok menjadi sales.”
Belum tentu.
Saya pernah mendengar kisah seorang salesperson otomotif yang secara karakter tidak terlalu banyak bicara.
Kalau menggunakan stereotip lama, mungkin kita akan mengatakan orang seperti itu sulit berhasil dalam penjualan.
Namun hasilnya justru berbeda.
Ia mampu menghasilkan penjualan lebih dari 200 unit mobil dalam setahun.
Apa kekuatannya?
Bukan karena ia pandai bersilat lidah.
Bukan karena ia selalu mempunyai kalimat closing yang spektakuler.
Ia dipercaya.
Pelanggan nyaman.
Pelanggan merasa didengarkan.
Pelanggan yakin bahwa apa yang direkomendasikan memang sesuai kebutuhan mereka.
Di sinilah mindset Sales Naik Kelas dimulai.
Jangan berpikir sales hebat adalah orang yang paling banyak menjelaskan.
Sering kali sales terbaik justru orang yang paling banyak bertanya.
Bukan:
“Pak, produk kami bagus sekali.”
Tetapi:
“Bapak sebenarnya sedang membutuhkan apa?”
Bukan:
“Ini fitur terbaru kami.”
Tetapi:
“Apa masalah yang sedang ingin Bapak selesaikan?”
Bukan sekadar berdebat agar pelanggan setuju.
Tetapi memahami sampai pelanggan merasa:
“Orang ini mengerti kebutuhan saya.”
Karena pada akhirnya:
orang tidak hanya membeli produk. Orang juga membeli kepercayaan.
Menjual adalah Membangun Trust
Kepercayaan atau trust adalah salah satu aset terbesar seorang salesperson karena pelanggan akan lebih mudah membeli ketika merasa aman terhadap orang yang memberikan rekomendasi.
Bayangkan ada dua sales menawarkan produk yang sama.
Harga sama.
Spesifikasi sama.
Promosinya sama.
Tetapi sales pertama terasa memaksa.
Semua pertanyaan dijawab dengan tujuan agar pelanggan segera membeli.
Sales kedua lebih tenang.
Ia bertanya.
Ia mendengarkan.
Kalau produknya tidak cocok, ia mengatakan tidak cocok.
Kalau ada alternatif lebih tepat, ia memberikan pilihan.
Mana yang lebih mudah dipercaya?
Kemungkinan besar sales kedua.
Itulah sebabnya saya tidak terlalu tertarik mengajarkan siswa sekadar:
“bagaimana cara membuat orang membeli.”
Saya lebih tertarik membangun kemampuan:
bagaimana menjadi orang yang layak dipercaya pelanggan.
Karena teknik closing dapat berubah.
Platform berubah.
Teknologi berubah.
Tetapi trust tetap menjadi fondasi relasi manusia.
Apakah AI Akan Menggantikan Sales?
AI dapat mengambil alih sebagian aktivitas penjualan dan pemasaran, tetapi sales yang mampu menggunakan AI sekaligus mempertahankan kemampuan manusia memiliki peluang untuk menjadi jauh lebih produktif.
Kekhawatiran tentang AI sering muncul.
“Pak, nanti kalau AI semakin pintar, kita masih dibutuhkan?”
Pertanyaan itu wajar.
Saya justru ingin siswa melihat AI dari perspektif yang berbeda.
Bukan sebagai monster yang harus ditakuti.
Tetapi sebagai:
booster produktivitas.
Bayangkan ada dua siswa.
Namanya Andi dan Budi.
Andi mendapat tugas membuat konten promosi.
Ia mengerjakan semuanya secara manual.
Mencari ide.
Membuat visual.
Mengedit.
Menyusun copy.
Total waktu yang dibutuhkan empat jam.
Budi menghadapi tugas yang sama.
Namun ia sudah belajar menggunakan AI.
Ia mampu menulis prompt yang jelas.
Ia menggunakan AI untuk brainstorming.
Mengembangkan konsep.
Membuat visual.
Menyusun copy awal.
Bahkan mencoba membuat video promosi cinematic menggunakan teknologi seperti Google Flow.
Dalam waktu lebih singkat ia menghasilkan lebih banyak alternatif.
Pertanyaannya:
Jika kualitas mereka relatif sama, siapa yang lebih produktif?
Tentu orang yang mampu menggunakan teknologi dengan baik.
Bukan berarti AI membuat seseorang otomatis hebat.
AI hanya memperbesar kemampuan orang yang menggunakannya.
Karena itu saya tidak ingin siswa mengatakan:
“AI akan menggantikan saya.”
Saya ingin pola pikirnya menjadi:
“Bagaimana AI membuat saya bekerja lebih cepat, lebih kreatif, dan lebih produktif?”
AI adalah Senjata, Bukan Otak Pengganti
Dalam sharing session di SMK Negeri 1 Kebumen, salah satu pesan yang saya sampaikan adalah:
AI adalah senjata.
Tetapi senjata hanya berguna ketika orang yang memegangnya tahu apa yang harus dilakukan.
AI dapat membantu salesperson:
- mencari ide konten,
- menyusun script promosi,
- membuat caption,
- membantu riset pelanggan,
- mengembangkan konsep campaign,
- menyiapkan presentasi,
- membuat visual,
- membuat video,
- dan membangun personal branding.
Tetapi AI tidak boleh membuat kita berhenti berpikir.
Jika semua tugas diberikan kepada AI dan manusia hanya menekan tombol, kita bukan semakin pintar.
Kita justru berisiko kehilangan kemampuan.
Karena itu pendekatannya harus:
Manusia berpikir → AI membantu → Manusia menilai → Manusia mengeksekusi.
Bukan:
AI berpikir → manusia copy-paste.
Sales masa depan membutuhkan kemampuan menggunakan teknologi sekaligus kemampuan mengambil keputusan.
Personal Branding Membuat Sales Tidak Selalu Harus Mengejar Pelanggan
Personal branding membantu salesperson membangun reputasi digital sehingga calon pelanggan dapat mengenali kompetensi dan kredibilitasnya sebelum terjadi percakapan penjualan.
Dulu seorang sales harus banyak mencari pelanggan.
Hari ini sebagian pelanggan bisa menemukan salesperson terlebih dahulu.
Misalnya seorang sales otomotif konsisten membuat konten:
- tips memilih kendaraan,
- penjelasan fitur,
- cara menentukan cicilan,
- perbandingan produk,
- edukasi perawatan,
- pengalaman pelanggan.
Kemudian orang mencarinya di Google atau media sosial.
Membaca kontennya.
Melihat aktivitasnya.
Mengenali keahliannya.
Saat suatu hari membutuhkan kendaraan, siapa yang diingat?
Sales yang sudah memberikan nilai sebelum menjual.
Itulah mengapa saya juga mendorong siswa memahami LinkedIn dan personal branding.
Bukan supaya mereka terlihat keren.
Tetapi supaya mereka belajar mendokumentasikan:
kompetensi.
pengalaman.
karya.
proses belajar.
AI dapat membantu mempercepat produksinya.
Tetapi isi dan reputasinya tetap harus berasal dari pengalaman nyata.
Belajar dari Kompetisi, Bukan Hanya Mengejar Piala
Kompetisi seharusnya dipandang sebagai laboratorium untuk melatih kompetensi, mental, disiplin, dan jam terbang, bukan sekadar arena menang atau kalah.
Saya cukup lama berada di lingkungan kompetisi siswa.
Sebagai juri Lomba Kompetensi Siswa bidang Pemasaran Digital, saya melihat banyak peserta dengan kemampuan berbeda.
Ada siswa dengan nilai akademik sangat tinggi.
Ada pula siswa yang secara akademik biasa saja.
Tetapi ketika masuk arena kompetisi, hasilnya belum tentu sama dengan rapor.
Bayangkan dua peserta.
Peserta A
Nilainya sangat baik.
Pintar secara akademik.
Tetapi latihan hanya sesekali.
Jarang simulasi.
Jarang memperbaiki presentasi.
Tidak terbiasa menghadapi tekanan.
Peserta B
Nilainya mungkin rata-rata.
Tetapi latihan setiap hari.
Presentasi berulang kali.
Merekam dirinya sendiri.
Melihat kekurangan.
Memperbaiki bahasa tubuh.
Mempelajari produk.
Riset melalui LinkedIn.
Berlatih membuat konten.
Bereksperimen dengan AI.
Melakukan simulasi berkali-kali.
Ketika hari pertandingan tiba, siapa yang lebih siap?
Inilah alasan saya mengatakan:
Siap mengalahkan bakat.
Bakat memberikan awal yang bagus.
Tetapi latihan menghasilkan konsistensi.
Formula Juara di Era AI
Dari pengalaman mendampingi dan melihat berbagai proses kompetisi, saya menggunakan formula sederhana:
Kompetensi + Mental + Disiplin + AI + Jam Terbang = Juara
Kompetensi
Kita harus benar-benar menguasai bidang yang dilombakan atau dikerjakan.
Tidak ada teknologi yang dapat menggantikan fondasi pengetahuan.
Mental
Kemampuan seseorang dapat turun drastis ketika tidak mampu menghadapi tekanan.
Karena itu mental harus dilatih.
Disiplin
Latihan sekali tidak cukup.
Kemampuan dibangun melalui repetisi.
AI
Teknologi dapat mempercepat riset, latihan, produksi konten, dan eksplorasi ide.
Gunakan sebagai leverage.
Jam Terbang
Semakin sering seseorang melakukan sesuatu, semakin banyak situasi yang pernah ia hadapi.
Pengalaman membuat kita lebih siap menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Formula ini tidak hanya berlaku untuk kompetisi.
Ia juga relevan untuk karier.
Hidup Tidak Diukur dari Nilai Rapor
Nilai akademik penting, tetapi kesuksesan profesional juga ditentukan oleh kemampuan memberikan nilai kepada orang lain, belajar, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah.
Ini adalah pesan yang menurut saya penting bagi siswa SMK.
Kadang-kadang kita terlalu cepat menilai masa depan seseorang dari rapor.
Yang ranking satu dianggap pasti akan sukses.
Yang nilainya biasa dianggap biasa saja.
Kehidupan tidak bekerja sesederhana itu.
Ada siswa yang dahulu tidak pernah ranking satu tetapi kemudian mempunyai karier luar biasa.
Ada yang menjadi entrepreneur.
Ada yang berkembang menjadi Sales Manager.
Sales Director.
Business leader.
Dan ada pula siswa dengan nilai tinggi yang tetap harus belajar banyak ketika memasuki dunia kerja.
Rapor mengukur bagian tertentu dari proses pendidikan.
Dunia kerja menanyakan hal yang lebih luas.
Bisakah Anda bekerja?
Bisakah Anda belajar?
Bisakah Anda berkomunikasi?
Bisakah Anda dipercaya?
Bisakah Anda bekerja dengan target?
Bisakah Anda menyelesaikan masalah?
Bisakah Anda menciptakan nilai?
Karena itu saya mengatakan:
“Hidup tidak hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari nilai yang bisa kita berikan kepada orang lain.”
Mengapa Siswa SMK Pemasaran Punya Peluang Besar?
Siswa SMK pemasaran berada pada posisi strategis karena mereka mempelajari kemampuan yang dibutuhkan hampir semua bisnis: memahami pelanggan, memasarkan produk, berkomunikasi, menjual, dan membangun hubungan.
Tidak ada bisnis tanpa pelanggan.
Dan tidak ada pertumbuhan bisnis tanpa kemampuan membawa produk menuju pelanggan.
Karena itu siswa pemasaran seharusnya tidak merasa jurusannya berada di bawah bidang lain.
Justru mereka harus memahami:
Anda sedang belajar salah satu fungsi paling vital dalam perusahaan.
Marketing membawa perhatian.
Sales mengubah peluang menjadi transaksi.
Customer service menjaga hubungan.
Digital marketing memperluas jangkauan.
AI memperbesar produktivitas.
Ketika kemampuan-kemampuan tersebut digabungkan, lulusan pemasaran mempunyai ruang karier yang sangat luas.
Yang harus diubah adalah mindset.
Dari:
“Saya cuma anak pemasaran.”
menjadi:
“Saya belajar bagaimana menciptakan nilai dan membawa nilai tersebut kepada pasar.”
Itu kompetensi yang sangat besar.
Sales Naik Kelas Dimulai dari Cara Kita Melihat Diri Sendiri
Saya datang ke SMK Negeri 1 Kebumen bukan hanya untuk mengajarkan teknik menjual.
Saya ingin mengubah satu persepsi.
Bahwa sales bukan pekerjaan buangan.
Bahwa menjadi salesperson bukan sesuatu yang harus ditertawakan.
Bahwa profesi sales dapat menjadi karier yang strategis, bergengsi, dan mempunyai peluang besar.
Tetapi untuk naik kelas, salesperson juga harus berubah.
Sales tidak cukup hanya jago bicara.
Sales harus memahami pelanggan.
Menguasai teknologi.
Membuat konten.
Membangun personal branding.
Belajar AI.
Membangun trust.
Mempunyai disiplin.
Mempunyai mental.
Dan terus menambah jam terbang.
Karena profesi yang hebat membutuhkan profesional yang hebat.
7 Days Sales AI Challenge
Saya tidak ingin materi berhenti sebagai catatan.
Belajar harus menjadi tindakan.
Karena itu saya memberikan sebuah tantangan sederhana:
7 Days Sales AI Challenge.
Selama tujuh hari:
Hari 1
Pilih satu produk yang Anda pahami.
Hari 2
Gunakan AI untuk menggali kebutuhan calon pelanggan produk tersebut.
Hari 3
Buat satu konsep konten promosi.
Hari 4
Gunakan AI untuk membantu membuat visual atau video.
Hari 5
Buat caption atau script penjualan.
Hari 6
Publikasikan atau presentasikan kepada teman.
Hari 7
Evaluasi.
Catat:
Apa yang berhasil?
Apa yang sulit?
Apa yang Anda pelajari?
Bagaimana AI membantu?
Apa yang tetap harus dilakukan manusia?
Tujuannya bukan agar dalam tujuh hari seseorang langsung menjadi sales hebat.
Tujuannya adalah membangun satu kebiasaan:
belajar, mencoba, mengevaluasi, memperbaiki.
Itulah kebiasaan seorang profesional.
Masa Depan Milik Sales yang Mau Belajar
Artificial Intelligence akan terus berkembang.
Cara pelanggan membeli akan berubah.
Platform baru akan muncul.
Kompetisi semakin ketat.
Tetapi manusia tetap mempunyai masalah.
Manusia tetap mempunyai kebutuhan.
Manusia tetap membutuhkan solusi.
Dan selama kebutuhan itu ada, fungsi penjualan tetap mempunyai tempat.
Yang mungkin hilang bukan sales.
Yang lebih berisiko tertinggal adalah cara lama menjadi sales.
Sales yang hanya mengandalkan brosur.
Sales yang hanya menunggu pelanggan.
Sales yang tidak memahami digital.
Sales yang berhenti belajar.
Sales yang menganggap AI sebagai ancaman tanpa pernah mencoba memahaminya.
Sebaliknya, sales masa depan akan menggabungkan:
Trust + Kompetensi + Digital + AI + Jam Terbang.
Jika hari ini ada seorang siswa yang sebelumnya berkata:
“Saya tidak mau jadi sales.”
kemudian mulai melihat bahwa sales sebenarnya adalah profesi tentang manusia, solusi, kepercayaan, teknologi, dan penciptaan nilai, maka tujuan sharing session ini sudah mulai tercapai.
Karena Sales Naik Kelas bukan sekadar slogan.
Ia adalah perubahan cara berpikir.
Dari penjual menjadi problem solver.
Dari mengejar pelanggan menjadi membangun trust.
Dari bekerja manual menjadi memanfaatkan teknologi.
Dari takut kompetisi menjadi belajar dari kompetisi.
Dari sekadar mengejar nilai rapor menjadi belajar menciptakan nilai bagi orang lain.
Dan dari merasa:
“Saya cuma sales.”
menjadi berani mengatakan:
“Saya bangga menjadi sales profesional.”
Karena pada akhirnya, masa depan bukan hanya milik mereka yang paling pintar.
Bukan pula mereka yang paling berbakat.
Masa depan lebih terbuka bagi mereka yang terus belajar, berani beradaptasi, mampu dipercaya, dan mampu menciptakan nilai.
Mengapa profesi sales masih penting di era AI?
Profesi sales tetap penting karena penjualan tidak hanya berisi aktivitas administratif. Sales perlu memahami kebutuhan pelanggan, membangun kepercayaan, berkomunikasi, memberikan rekomendasi, dan menciptakan hubungan. AI dapat membantu mempercepat berbagai pekerjaan, tetapi manusia tetap menentukan bagaimana teknologi digunakan dalam interaksi dengan pelanggan.
Apakah orang pendiam bisa menjadi sales yang sukses?
Bisa. Sales tidak harus menjadi orang yang paling banyak bicara. Kemampuan mendengarkan, mengajukan pertanyaan yang tepat, memahami kebutuhan, konsisten, dan dapat dipercaya justru sangat penting. Seseorang yang pendiam tetapi mampu membangun trust dapat menjadi salesperson yang efektif.
Bagaimana AI membantu profesi sales?
AI dapat membantu salesperson mencari ide konten, membuat draft promosi, melakukan brainstorming, menyusun presentasi, membantu riset, membuat visual, mengembangkan video, dan mempercepat pekerjaan lainnya. AI sebaiknya digunakan sebagai booster produktivitas, sedangkan keputusan dan evaluasi akhir tetap dilakukan manusia.
Apa yang dimaksud Sales Naik Kelas?
Sales Naik Kelas adalah perubahan mindset dari sales yang hanya menawarkan produk menjadi sales profesional yang berperan sebagai problem solver. Sales modern perlu memahami pelanggan, membangun trust, menguasai komunikasi, digital marketing, personal branding, AI, serta terus meningkatkan kompetensi dan jam terbang.
Mengapa siswa SMK pemasaran perlu mempelajari sales?
Siswa SMK pemasaran perlu mempelajari sales karena hampir semua bisnis membutuhkan kemampuan membawa produk atau solusi kepada pelanggan. Skill sales juga melatih komunikasi, problem solving, negosiasi, customer understanding, keberanian, disiplin, dan kemampuan menciptakan nilai.
Apa formula untuk menjadi juara di era AI?
Formula yang digunakan Ahmad Madani adalah Kompetensi + Mental + Disiplin + AI + Jam Terbang = Juara. Kompetensi memberikan kemampuan, mental membantu menghadapi tekanan, disiplin menjaga konsistensi, AI memberikan leverage, dan jam terbang membangun pengalaman.
Apakah nilai rapor menentukan kesuksesan karier?
Nilai rapor merupakan salah satu ukuran proses akademik, tetapi bukan satu-satunya faktor kesuksesan karier. Dunia kerja juga membutuhkan kemampuan belajar, komunikasi, adaptasi, problem solving, trust, kerja sama, teknologi, dan kemampuan memberikan nilai kepada organisasi maupun pelanggan.