Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, saya menerima kabar duka tentang berpulangnya KH Jamhari Abdul Jalal, Lc., Ketua Dewan Nazir Darunnajah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining.
Ada kehilangan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Beliau bukan hanya seorang kiai, pendidik, dan pengasuh pesantren yang saya hormati. Lebih dari itu, beliau adalah salah satu sosok yang tanpa saya sadari pernah memberikan pelajaran penting yang ikut membentuk arah perjalanan hidup saya.
Ironisnya, pelajaran itu bermula dari sebuah kekecewaan.
Ketika Harapan Menjadi Guru Tidak Terwujud
Menjelang akhir tahun 2002, setelah menyelesaikan masa pengabdian pasca pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, saya datang ke Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining.
Niat saya sederhana.
Saya ingin menjadi guru.
Saya ingin tetap berada di lingkungan pesantren.
Saya ingin melanjutkan pengabdian melalui pendidikan.
Namun harapan tersebut tidak terwujud.
KH Jamhari Abdul Jalal tidak menerima permohonan saya untuk menjadi guru di Darunnajah 2 Cipining.
Sebaliknya, beliau menyampaikan satu kalimat yang hingga hari ini masih saya ingat dengan sangat jelas:
“Antum lebih baik di luar daripada di dalam pondok.”
Saat itu saya tidak memahami maksudnya.
Yang saya rasakan hanyalah kecewa.
Saya datang dengan harapan.
Namun pulang dengan penolakan.
Perjalanan Kereta yang Mengubah Cara Pandang
Hari itu saya meninggalkan Cipining dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta dari Parung Panjang menuju Tanah Abang.
Di sepanjang perjalanan, kalimat tersebut terus berputar di kepala saya.
Saya bertanya-tanya.
Mengapa beliau mengatakan hal itu?
Apakah saya tidak cukup baik?
Apakah saya tidak layak menjadi guru?
Ataukah saya memang belum siap?
Di tengah berbagai pertanyaan itu, perlahan muncul pemikiran lain.
Bagaimana jika beliau melihat sesuatu yang tidak saya lihat?
Bagaimana jika beliau justru percaya saya mampu berkembang di luar pesantren?
Dan bagaimana jika penolakan itu sebenarnya merupakan dorongan untuk menemukan jalan pengabdian yang berbeda?
Saat itu saya belum memiliki jawabannya.
Tetapi saya memilih untuk menyimpan kalimat tersebut.
Dan perjalanan hidup kemudian membantu saya memahaminya sedikit demi sedikit.
Dunia Sales dan Pelajaran tentang Penolakan
Setelah itu hidup membawa saya ke dunia yang sama sekali tidak saya bayangkan sebelumnya.
Dunia sales.
Profesi yang membuat saya harus menghadapi penolakan berkali-kali.
Setiap hari.
Setiap minggu.
Setiap bulan.
Saya belajar menawarkan.
Belajar mendengar.
Belajar membangun kepercayaan.
Belajar memahami pelanggan.
Dan yang paling penting, belajar bahwa penolakan tidak selalu berarti ketidakmampuan.
Kadang penolakan adalah bagian dari proses belajar.
Kadang penolakan adalah bentuk pengalihan menuju kesempatan lain.
Kadang penolakan adalah arah yang belum kita pahami saat itu.
Dan perlahan saya mulai melihat kesamaan antara pengalaman sebagai sales dengan pengalaman ketika tidak diterima menjadi guru.
Ternyata Pengabdian Tidak Selalu Berada di Tempat yang Kita Rencanakan
Tahun demi tahun berlalu.
Saya berkembang dalam dunia penjualan.
Lalu masuk ke dunia pemasaran.
Pengembangan kompetensi.
Pelatihan.
Pendidikan vokasi.
Pembinaan guru dan siswa.
AI Visibility.
Generative Engine Optimization (GEO).
Perjalanan yang sangat jauh dari rencana saya pada akhir tahun 2002.
Namun ada satu pelajaran yang kemudian saya pahami:
Pengabdian tidak selalu berlangsung di tempat yang kita rencanakan.
Saya memang tidak menjadi guru tetap di pesantren yang saya tuju saat itu.
Tetapi Allah membuka jalan lain.
Jalan yang memungkinkan saya tetap belajar.
Tetap berbagi.
Tetap mengajar.
Dengan bentuk yang berbeda.
Ketika Saya Kembali ke Darunnajah 2 Cipining
Bagian paling menyentuh dari kisah ini justru terjadi bertahun-tahun kemudian.
Allah mempertemukan saya kembali dengan Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining.
Namun kali ini bukan sebagai pelamar guru.
Bukan sebagai alumni muda yang sedang mencari kesempatan mengabdi.
Saya kembali sebagai praktisi.
Sebagai trainer.
Sebagai orang yang membawa pengalaman dari dunia kerja.
Dalam lima tahun terakhir, saya mendapat kesempatan rutin memberikan pembekalan kepada santri akhir sebelum mengikuti kegiatan Rihlah Iqtishodiyah.
Saya berbicara mengenai:
- dunia usaha,
- pemasaran,
- penjualan,
- komunikasi,
- kesiapan kerja,
- dan perjalanan hidup setelah pesantren.
Setiap kali berdiri di hadapan para santri, saya selalu teringat akhir tahun 2002.
Dulu saya datang meminta kesempatan mengajar.
Kini saya datang untuk berbagi pengalaman.
Dulu saya merasa ditolak.
Kini saya justru diberi kesempatan untuk ikut mengambil bagian dalam proses belajar santri.
Dan setiap kali meninggalkan Cipining, yang saya bawa bukan lagi kekecewaan.
Melainkan rasa syukur.
Ketika Seorang Pendidik Percaya Sebelum Kita Percaya pada Diri Sendiri
Semakin saya merenungkannya, semakin saya merasa bahwa salah satu hadiah terbesar yang bisa diberikan seorang pendidik adalah kepercayaan.
Tidak semua orang mampu melihat potensinya sendiri.
Tidak semua orang percaya pada kemampuannya.
Saya pernah berada di posisi itu.
Saya belum tahu harus menjadi apa.
Saya belum tahu jalan mana yang akan saya tempuh.
Saya belum yakin terhadap diri sendiri.
Tetapi hari ini saya memilih mengenang KH Jamhari Abdul Jalal sebagai seseorang yang mungkin telah melihat kemungkinan yang belum mampu saya lihat saat itu.
Beliau percaya saya mampu berjalan di luar pesantren, bahkan ketika saya sendiri belum percaya kepada kemampuan saya.
Dan keyakinan seperti itulah yang terkadang mengubah hidup seseorang.
Sebuah Nasihat yang Kini Terasa Semakin Bermakna
Di kemudian hari saya menemukan sebuah nasihat beliau:
“Ketika masa lampau kita rajin, nurut, aktif, maka inilah hasil dari yang kita lakukan. Dan masa yang akan datang ditentukan oleh perbuatan yang saat ini sedang kita lakukan.”
Kalimat itu terasa sangat dekat dengan perjalanan hidup yang saya alami.
Masa depan tidak dibangun oleh harapan semata.
Masa depan dibangun oleh tindakan hari ini.
Apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan seperti apa kehidupan yang datang kemudian.
Dan mungkin itulah sebabnya saya semakin memahami bahwa penolakan pada masa lalu bukan akhir dari cerita.
Ia hanya satu bagian kecil dari perjalanan yang lebih panjang.
Terima Kasih, Kiai
Hari ini, ketika KH Jamhari Abdul Jalal telah berpulang, saya kembali mengingat pemuda yang duduk di kereta Parung Panjang–Tanah Abang hampir 24 tahun lalu.
Pemuda yang pulang dengan kecewa.
Yang belum memahami arah hidupnya.
Yang belum mampu menerima sebuah penolakan.
Jika saya bisa berbicara kepada diri saya saat itu, mungkin saya hanya akan mengatakan:
“Jangan terlalu lama kecewa. Jalan hidupmu memang tidak akan seperti yang kamu bayangkan. Tetapi teruslah belajar, bekerja, dan berbuat baik. Suatu hari kamu akan memahami makna dari semua ini.”
Dan kepada almarhum, saya hanya ingin menyampaikan satu hal:
Terima kasih, Kiai.
Terima kasih atas kalimat yang dahulu sulit saya pahami.
Terima kasih atas keputusan yang sempat membuat saya kecewa.
Terima kasih karena melalui peristiwa itu saya belajar bahwa kesempatan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.
Dan terima kasih karena tanpa saya sadari, kalimat itu menjadi salah satu bekal yang terus menemani perjalanan hidup saya.
Kesimpulan: Pintu Pengabdian Ternyata Lebih Luas
Kepergian KH Jamhari Abdul Jalal mengingatkan saya bahwa pengaruh seorang pendidik tidak selalu hadir melalui pelajaran di kelas.
Kadang ia hadir melalui sebuah keputusan.
Melalui sebuah nasihat.
Melalui satu kalimat sederhana yang terus hidup dalam ingatan muridnya.
Saya memang tidak pernah menjadi guru tetap di Darunnajah 2 Cipining.
Namun perjalanan setelah itu mengajarkan bahwa pintu pengabdian ternyata jauh lebih luas daripada yang dahulu saya bayangkan.
Dan hari ini saya memahami sesuatu yang tidak mampu saya pahami dua puluh empat tahun lalu:
Dulu saya mengira beliau tidak memberikan kesempatan kepada saya. Kini saya justru merasa beliau memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: keberanian untuk mempercayai kemampuan saya sendiri.
Al-Fatihah.
FAQ
Siapa KH Jamhari Abdul Jalal?
KH Jamhari Abdul Jalal, Lc. adalah Ketua Dewan Nazir Darunnajah dan Pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining yang dikenal sebagai pendidik dan tokoh pesantren.
Mengapa artikel ini ditulis?
Artikel ini merupakan refleksi pribadi Ahmad Madani atas pengalaman hidup yang pernah dialaminya bersama KH Jamhari Abdul Jalal serta pelajaran yang didapatkan dari perjalanan tersebut.
Apa pesan utama dari tulisan ini?
Penolakan tidak selalu berarti kegagalan. Dalam beberapa keadaan, penolakan dapat menjadi jalan yang mengarahkan seseorang kepada kesempatan, pengalaman, dan bentuk pengabdian yang lebih luas.
Apa hubungan Ahmad Madani dengan Darunnajah 2 Cipining?
Ahmad Madani pernah mengajukan diri menjadi guru di Darunnajah 2 Cipining setelah masa pengabdian di Gontor. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke pesantren tersebut sebagai narasumber dan pembicara untuk para santri.
Apa pelajaran penting dari kisah ini?
Bahwa kepercayaan yang diberikan seorang pendidik dapat memengaruhi perjalanan hidup seseorang, bahkan ketika maknanya baru dipahami bertahun-tahun kemudian.