Pada 31 Agustus 2026, saya berangkat dari Jakarta menuju Biak Numfor, Papua. Penugasan saya ke SMK Yapis TIK Biak Numfor pada awalnya adalah untuk melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Gerakan 1.000 Siswa SMK Sales Naik Kelas.
Namun bagi saya, setiap kunjungan ke sekolah tidak seharusnya hanya selesai pada pemeriksaan dokumen, daftar hadir, angka capaian, atau pengisian instrumen evaluasi.
Ada hal yang lebih penting: mendengar cerita guru, memahami keresahan siswa, melihat hubungan sekolah dengan dunia industri, lalu mencari cara agar program benar-benar hidup dalam proses belajar mereka.
Karena itu, setelah melaksanakan Monev pada 1 September 2026, saya menyempatkan diri memberikan dua sesi penguatan pada 2 September 2026. Sesi pagi untuk siswa kelas X dan XI jurusan Pemasaran. Sesi siang untuk para guru.
Dua sesi ini lahir dari temuan yang saya dapatkan langsung di lapangan.
Monev Bukan Sekadar Mengisi Instrumen
Monev di SMK Yapis TIK Biak Numfor dilakukan melalui verifikasi dokumen program, wawancara dengan guru penanggung jawab, siswa, dan mitra industri. Dalam kegiatan ini, saya juga berdiskusi dengan perwakilan PT Hasjrat Abadi, dealer Yamaha, yang menjadi salah satu mitra industri sekolah.
Yang saya lihat, sekolah memiliki komitmen yang baik dalam menjalankan Program Gerakan 1.000 Siswa SMK Sales Naik Kelas. Administrasi program tersedia, guru pendamping menjalankan perannya, dan keterlibatan industri sudah mulai terasa.
Kolaborasi dengan dunia industri tidak berhenti pada MoU atau dokumen kerja sama. Ada penyelarasan pembelajaran, praktik kerja lapangan, dan keterlibatan guru tamu. Selain PT Hasjrat Abadi, sekolah juga memiliki relasi dengan mitra seperti FIF Group dan Hadi Retail.
Hasil Monev menunjukkan bahwa SMK Yapis TIK Biak Numfor memperoleh nilai 94 dengan kategori Baik.
Nilai tersebut tentu patut diapresiasi. Tetapi bagi saya, angka bukan akhir dari proses evaluasi. Angka justru menjadi pintu untuk memahami cerita di baliknya.
Saya menemukan bahwa siswa cukup terbantu dengan materi tentang LinkedIn, personal branding, pemahaman profesi sales, serta tahapan penjualan. Mereka mulai melihat bahwa pembelajaran pemasaran tidak hanya berbicara tentang teori produk, tetapi juga tentang bagaimana membangun kesiapan diri menghadapi dunia kerja.
Namun, ada juga beberapa hal yang perlu terus diperkuat.
Sebagian siswa masih memerlukan pengulangan materi. Ada yang masih menghadapi kendala dalam menyelesaikan tugas, mengatur waktu, dan memahami materi secara menyeluruh. Ada pula yang belum sepenuhnya yakin bahwa profesi sales adalah karier yang menjanjikan.
Keterbatasan jaringan internet juga menjadi salah satu masukan penting. Ini mengingatkan kita bahwa distribusi materi tidak boleh hanya mengandalkan satu cara. Materi perlu tetap dapat diakses, dipelajari ulang, dan didampingi dengan pendekatan yang sesuai kondisi siswa.
Dari sinilah saya merasa bahwa penguatan langsung perlu dilakukan.
Sales Itu Bukan Soal Bakat
Pada pagi hari tanggal 2 September 2026, saya berbagi bersama siswa kelas X dan XI jurusan Pemasaran melalui materi berjudul:
“Sales Itu Bukan Soal Bakat: Berani Mulai, Berani Menjual, Berani Punya Masa Depan.”
Saya memulai materi ini dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Banyak siswa berkata, “Saya malu, Pak.”
Ada yang berkata, “Saya tidak pandai bicara.”
Ada yang merasa, “Saya tidak punya bakat jualan.”
Kalimat-kalimat seperti ini sering saya dengar ketika bertemu siswa pemasaran di berbagai daerah. Mereka mengira sales adalah profesi untuk orang yang cerewet, sangat percaya diri, atau sejak awal sudah pandai memengaruhi orang lain.
Padahal, sales profesional tidak dibangun dari bakat berbicara semata.
Sales dibangun dari keberanian untuk memulai, kemauan untuk memahami orang lain, kemampuan bertanya, kesediaan mendengar, dan ketangguhan untuk belajar dari penolakan.
Saya mengajak siswa melihat bahwa percaya diri bukan syarat sebelum bertindak. Justru tindakanlah yang membangun percaya diri.
Kita tidak menunggu jago untuk bermain game. Kita mencoba, kalah, mengulang, belajar, lalu perlahan naik level. Dalam dunia sales pun demikian. Kita tidak perlu menunggu berani untuk menawarkan. Kita menawarkan dulu, belajar dari respons pelanggan, memperbaiki cara komunikasi, lalu keberanian tumbuh melalui pengalaman.
Saya juga mengajak mereka memahami bahwa penolakan bukan serangan terhadap harga diri.
Ketika calon pelanggan berkata tidak, mungkin ia belum membutuhkan produk tersebut. Mungkin belum punya anggaran. Mungkin waktunya belum tepat. Mungkin cara kita menyampaikan penawaran masih perlu diperbaiki.
Penolakan bukan berarti kita buruk. Penolakan adalah data. Penolakan adalah bagian dari riset pasar.
Karena itu, saya mengajak siswa untuk tidak menjadikan “takut ditolak” sebagai alasan berhenti. Justru mereka perlu belajar membiasakan diri bergerak meskipun masih takut.
Dalam sesi tersebut, saya memperkenalkan empat keberanian dasar yang perlu dimiliki siswa pemasaran:
- Berani menawarkan.
- Berani berbicara.
- Berani menunjukkan karya.
- Berani gagal dan mencoba kembali.
Keempat hal ini terlihat sederhana, tetapi sangat menentukan masa depan siswa.
Siswa yang berani menawarkan akan belajar memahami kebutuhan orang lain. Siswa yang berani berbicara akan belajar menyampaikan ide. Siswa yang berani membuat karya akan memiliki portofolio. Dan siswa yang berani gagal akan memiliki mental untuk terus bertumbuh.
Saya juga menekankan pentingnya LinkedIn dan jejak digital. Saya tidak ingin siswa melihat LinkedIn hanya sebagai tugas sekolah. LinkedIn adalah etalase profesional.
Lima tahun dari sekarang, ketika seseorang mencari nama mereka di internet, apa yang akan ditemukan?
Apakah hanya akun media sosial tanpa arah? Atau ada jejak tentang proyek, pengalaman praktik, sertifikat, analisis, karya, dan proses belajar mereka?
Dunia kerja tidak hanya bertanya, “Kamu bisa apa?”
Dunia kerja juga bertanya, “Mana buktinya?”
Karena itulah, tugas sekolah, proyek pemasaran, praktik menjual, dokumentasi kegiatan, dan refleksi belajar seharusnya mulai dilihat sebagai investasi portofolio.
Guru Tidak Cukup Hanya Menyuruh
Pada sesi siang, saya bertemu dengan para guru melalui materi:
“Dari Menyuruh Menjadi Menumbuhkan: Strategi Membangun Motivasi, Ownership, dan Keberanian Siswa Pemasaran.”
Materi ini sangat relevan dengan hasil percakapan saya bersama guru selama Monev.
Salah satu tantangan yang muncul adalah cara menyampaikan materi kepada siswa. Ada siswa yang tampak lebih mudah menerima masukan dari narasumber luar dibandingkan dari guru yang setiap hari mendampingi mereka.
Bagi saya, situasi ini bukan berarti guru tidak mampu atau kurang penting. Justru ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali peran guru di kelas.
Guru tidak hanya berperan sebagai pemberi instruksi.
Guru adalah pihak yang menumbuhkan.
Ada perbedaan besar antara membuat siswa patuh dan membuat siswa memiliki proses belajarnya. Siswa yang patuh mungkin mengerjakan tugas karena diminta. Tetapi ketika guru tidak mengingatkan, ia berhenti. Ketika menemukan kesulitan, ia menunggu jawaban. Ketika terlambat, ia berharap diberi kelonggaran.
Sebaliknya, siswa yang memiliki ownership akan memahami alasan mengapa ia perlu mengerjakan sesuatu. Ia tahu bahwa tugas bukan sekadar beban, tetapi proses membangun kemampuan dan portofolio. Ia tidak hanya bergerak karena disuruh, tetapi karena melihat hubungan antara apa yang dikerjakan hari ini dengan masa depannya.
Saya mengajak para guru untuk perlahan bergeser dari peran sebagai sutradara menjadi coach.
Sutradara mengatur semuanya: apa yang harus dikatakan siswa, bagaimana mereka harus berdiri, dan langkah apa yang harus dilakukan. Hasilnya mungkin cepat terlihat rapi. Namun ketika guru tidak ada, siswa bisa menjadi bingung karena terbiasa mengikuti instruksi.
Coach bekerja dengan cara berbeda. Ia mengajukan pertanyaan, memberi ruang berpikir, membantu siswa mengenali masalahnya, dan menuntun ketika diperlukan.
Ketika siswa berkata, “Saya tidak bisa,” guru tidak harus langsung memberi jawaban. Guru dapat bertanya, “Bagian mana yang belum kamu pahami?”
Ketika siswa berkata, “Saya tidak tahu harus mulai dari mana,” guru dapat bertanya, “Menurutmu, langkah paling kecil apa yang bisa kamu lakukan hari ini?”
Ketika siswa berkata, “Saya malu jualan,” guru dapat membantu mengecilkan tantangannya. Jangan langsung meminta siswa menjual kepada banyak orang. Mulailah dari menawarkan kepada satu teman, satu anggota keluarga, atau satu orang yang sudah dikenal.
Keberanian tidak dibangun dengan tuntutan besar yang datang tiba-tiba. Keberanian dibangun melalui kemenangan-kemenangan kecil.
Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Salah satu hal yang juga saya tekankan kepada guru adalah cara kita menilai siswa pemasaran.
Jika ukuran keberhasilan hanya hasil penjualan, maka yang akan terlihat unggul adalah siswa yang sejak awal sudah percaya diri atau memiliki lingkungan yang mendukung. Siswa yang masih pemalu, masih takut, atau belum terampil berbicara akan merasa tertinggal.
Padahal dalam pendidikan, kita perlu mengukur proses.
Apakah siswa mulai berinisiatif tanpa disuruh? Apakah ia berani menawarkan? Apakah ia mencoba lagi setelah ditolak? Apakah kualitas percobaan keduanya lebih baik daripada percobaan pertama? Apakah ia mampu mengambil pelajaran dari kegagalan?
Hal-hal seperti itu perlu diapresiasi.
Seorang siswa yang menawarkan produk kepada sepuluh orang lalu belum mendapatkan pembeli bukan berarti gagal. Ia sedang belajar membaca respons pasar. Ia dapat mengevaluasi: kalimat pembuka mana yang kurang tepat, waktu menawarkan yang lebih sesuai, kebutuhan pelanggan yang belum dipahami, atau cara presentasi produk yang masih perlu diperbaiki.
Di situlah proses belajar sales yang sesungguhnya terjadi.
Saya percaya guru dapat membangun budaya kelas yang lebih sehat dengan menghargai perilaku nyata, bukan hanya memuji label seperti “pintar” atau “berbakat”. Apresiasi dapat diberikan kepada siswa yang langsung mulai, berani bertanya, mampu bekerja sama, tetap mencoba setelah ditolak, atau menunjukkan perbaikan dari waktu ke waktu.
Ketika perilaku baik terlihat dan dihargai, siswa lain akan belajar bahwa keberanian, ketekunan, dan inisiatif adalah hal yang bernilai.
Pendidikan Vokasi Harus Membawa Siswa pada Dunia Nyata
Perjalanan ke Biak Numfor kembali mengingatkan saya bahwa pendidikan vokasi memiliki tugas yang besar.
SMK tidak cukup hanya membuat siswa memahami materi. SMK harus membantu siswa menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia nyata. Mereka perlu memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mental, komunikasi, disiplin, inisiatif, portofolio, dan keberanian.
Karena itu, kolaborasi sekolah dengan industri menjadi sangat penting. Kehadiran industri seperti PT Hasjrat Abadi memberi siswa kesempatan untuk memahami proses kerja yang nyata. Mereka dapat melihat bahwa dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pandai menjawab soal, tetapi orang yang dapat bekerja sama, belajar cepat, berkomunikasi, bertanggung jawab, dan menghargai proses.
SMK Yapis TIK Biak Numfor telah memiliki fondasi yang baik. Hasil Monev kategori Baik menunjukkan komitmen sekolah dalam menjalankan Program Gerakan 1.000 Siswa SMK Sales Naik Kelas. Tantangan yang ada bukan alasan untuk berhenti, tetapi bahan untuk memperbaiki langkah berikutnya.
Saya berharap sesi bersama siswa dan guru ini dapat menjadi bagian kecil dari proses panjang tersebut.
Bagi siswa, semoga mereka tidak lagi menunggu rasa percaya diri datang. Semoga mereka mulai membangun keberanian melalui tindakan kecil yang konsisten.
Bagi guru, semoga proses pendampingan tidak berhenti pada menyuruh siswa menyelesaikan tugas, tetapi berkembang menjadi usaha untuk menumbuhkan motivasi, ownership, dan kemampuan siswa memimpin dirinya sendiri.
Dan bagi sekolah, semoga kolaborasi dengan industri terus diperkuat agar pembelajaran pemasaran semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Sebab masa depan tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu.
Masa depan dibangun oleh mereka yang berani mulai, berani belajar, berani menawarkan, dan berani terus bertumbuh.