Kemampuan menjual bukan bakat bawaan. Sales adalah keterampilan yang berkembang melalui tindakan, pengalaman, latihan, keberanian menghadapi penolakan, dan kemampuan memahami kebutuhan orang lain. Karena itu, orang yang pendiam sekalipun dapat menjadi salesperson yang baik jika mau terus mencoba dan belajar.
“Saya orangnya pendiam, Pak.”
“Saya malu.”
“Saya tidak punya bakat jualan.”
Kalimat-kalimat seperti ini sering muncul ketika saya berbicara dengan siswa.
Hal yang sama menjadi bagian penting dari sharing session Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas bersama siswa kelas XI Jurusan Pemasaran di SMK Yapis TIK Biak Numfor, Papua.
Saya ingin mereka memahami satu hal sejak awal:
Sales bukan soal bakat. Sales adalah keberanian yang dilatih.
Selama ini kita terlalu mudah menganggap orang yang pandai bicara otomatis akan bagus dalam penjualan.
Sebaliknya, siswa yang pendiam merasa dirinya tidak cocok.
Padahal kemampuan menjual jauh lebih luas daripada kepintaran berbicara.
Sales membutuhkan kemampuan:
- mengamati,
- bertanya,
- mendengarkan,
- memahami,
- menawarkan solusi,
- membangun kepercayaan,
- dan berani menghadapi penolakan.
Semua kemampuan itu bisa dilatih.
Jangan Menunggu Percaya Diri Sebelum Bertindak
Banyak orang mempunyai logika seperti ini:
“Nanti kalau sudah percaya diri, saya mulai.”
Masalahnya:
percaya diri sering tidak datang sebelum kita mencoba.
Justru prosesnya biasanya terbalik.
Saya sering menggunakan analogi video game.
Ketika pertama kali memainkan sebuah game, apakah kita langsung mahir?
Tidak.
Kita kalah.
Salah menekan tombol.
Tidak tahu jalannya.
Kemudian bermain lagi.
Kalah lagi.
Belajar.
Sampai akhirnya:
level naik.
Kehidupan bekerja dengan prinsip yang mirip.
Kita tidak hebat lalu mulai.
Kita mulai, kemudian perlahan menjadi hebat.
Karena itu saya menggunakan formula:
ACTION → EXPERIENCE → CONFIDENCE
Action menghasilkan pengalaman.
Experience menghasilkan pembelajaran.
Pembelajaran yang terus diulang membangun:
confidence.
Bukan:
“Percaya diri dulu baru mencoba.”
Tetapi:
“Mencoba dulu, lalu percaya diri tumbuh.”
You Become Good Because You Play
Ada sebuah kalimat sederhana yang menurut saya menjelaskan semuanya:
You don’t play because you’re good. You become good because you play.
Seseorang tidak melakukan presentasi karena sudah pandai presentasi.
Ia menjadi pandai karena sering presentasi.
Seseorang tidak menjadi hebat dalam live selling karena sejak lahir sudah pandai live.
Ia menjadi hebat karena:
pernah grogi.
pernah salah bicara.
pernah sepi penonton.
pernah lupa script.
lalu mencoba lagi.
Semakin sering kita melakukan sesuatu, semakin banyak referensi pengalaman yang dimiliki otak.
Inilah:
jam terbang.
Dan jam terbang tidak dapat di-download.
Harus dijalani.
Sales Bukan Lomba Siapa yang Paling Banyak Bicara
Mitos berikutnya adalah:
“Kalau mau jadi sales harus cerewet.”
Saya tidak setuju.
Sales profesional justru harus pandai:
mendengar.
Mari gunakan contoh sederhana.
Ada dua penjual payung.
Penjual Pertama
Ia berteriak:
“Payung! Payung murah! Kuat! Beli sekarang!”
Ia fokus pada:
produk.
Penjual Kedua
Ia melihat seseorang berjalan.
Kemudian bertanya:
“Pak, Bapak mau jalan ke mana?”
Orang itu menjawab:
“Ke pasar.”
Penjual tersebut melihat langit mulai gelap.
Lalu mengatakan:
“Sepertinya sebentar lagi hujan. Kalau Bapak jalan kaki, mungkin payung ini bisa membantu supaya tidak kehujanan.”
Penjual kedua tidak memulai dengan:
jualan.
Ia memulai dengan:
memahami situasi.
Itulah perbedaan besar.
Gunakan Framework SEE – ASK – LISTEN – OFFER
Saya menggunakan framework sederhana:
SEE → ASK → LISTEN → OFFER
SEE
Amati.
Apa yang sedang terjadi?
Apa konteksnya?
Apa masalah yang mungkin sedang dialami?
ASK
Jangan berasumsi.
Tanyakan.
“Apa yang sedang Bapak butuhkan?”
“Apa kendalanya?”
“Yang paling penting bagi Bapak apa?”
LISTEN
Dengarkan jawaban.
Jangan hanya menunggu giliran bicara.
Karena informasi terpenting sering datang dari pelanggan sendiri.
OFFER
Setelah memahami, baru tawarkan solusi.
Sekarang produk terasa jauh lebih relevan.
Sales seperti ini bukan:
forcing.
Tetapi:
helping.
Dan bagi saya:
Sales profesional adalah helping profession.
Sales yang Baik Tidak Memaksa Orang Membeli
Kalau pelanggan tidak membutuhkan, jangan dipaksa.
Kalau produk tidak sesuai, jangan dibuat seolah-olah cocok.
Mengapa?
Karena tujuan sales profesional bukan hanya transaksi.
Tujuan besarnya adalah:
trust.
Orang yang merasa dibantu akan mengingat kita.
Orang yang merasa dipaksa juga akan mengingat kita.
Tetapi dengan cara yang berbeda.
Karena itu selling yang baik selalu dimulai dari pertanyaan:
“Bagaimana saya bisa membantu?”
Bukan:
“Bagaimana caranya supaya dia membeli?”
Tugas Sekolah Bisa Menjadi Investasi Masa Depan
Ada hal lain yang saya lihat penting bagi siswa.
Cara kita memandang tugas.
Bayangkan dua siswa.
Namanya Andi dan Budi.
Keduanya mendapat tugas sama:
membuat profil LinkedIn.
Andi
Andi berpikir:
“Ah, tugas lagi.”
Ditunda.
Besok.
Lusa.
Sampai mendekati deadline.
Akhirnya dibuat seadanya.
Tujuannya:
yang penting mengumpulkan.
Bagi Andi:
Tugas = Beban
Budi
Budi mempunyai cara pandang berbeda.
Ia berpikir:
“Kalau saya mengerjakan ini serius, hasilnya bisa tetap ada setelah nilai tugas selesai.”
Ia membuat profil.
Menulis posting pertama.
Hanya mendapat 5 likes.
Tidak masalah.
Minggu berikutnya posting lagi.
Mendapat 8 likes.
Kemudian mulai mendokumentasikan:
- project,
- kegiatan,
- sertifikat,
- pembelajaran,
- pengalaman.
Bagi Budi:
Tugas = Investasi
Andi dan Budi:
sekolahnya sama.
gurunya sama.
WiFi-nya mungkin sama.
Yang berbeda adalah:
cara melihat kesempatan.
Jangan Kerjakan Tugas Hanya untuk Guru
Ini mindset yang harus diubah.
Kalau guru memberikan tugas membuat konten, jangan berpikir:
“Ini untuk Pak Guru.”
Buatlah seolah-olah:
“Ini untuk portofolio saya.”
Kalau mendapat tugas presentasi:
“Ini latihan public speaking saya.”
Kalau diminta membuat LinkedIn:
“Ini digital footprint saya.”
Kalau diminta berjualan:
“Ini latihan menghadapi pelanggan.”
Sekarang tugas tidak lagi selesai ketika nilai keluar.
Hasilnya bisa terus dibawa.
Dan itu jauh lebih berharga.
LinkedIn adalah Etalase Profesional
Bayangkan tahun 2028.
Dua orang duduk mengikuti proses rekrutmen.
Pelamar A
Ia berkata:
“Saya tertarik pada marketing.”
HR kemudian bertanya:
“Ada project yang pernah dikerjakan?”
Ia bingung.
Tidak ada dokumentasi.
Pelamar B
Ia juga tertarik pada marketing.
Tetapi membuka profil LinkedIn.
Di sana ada:
- dokumentasi project sekolah,
- analisis sederhana,
- sertifikat,
- kegiatan,
- tulisan,
- portfolio,
- pengalaman organisasi.
Siapa yang lebih mudah dipercaya?
Kemungkinan besar:
Pelamar B.
Bukan karena followers-nya lebih banyak.
Tetapi karena ia mempunyai:
proof.
Dunia Kerja Tidak Hanya Bertanya “Kamu Bisa Apa?”
Pertanyaan berikutnya adalah:
“Mana buktinya?”
Maka personal branding bukan pencitraan.
Personal branding yang sehat adalah:
dokumentasi kompetensi.
Kalau kita benar-benar pernah melakukan sesuatu:
tunjukkan.
Pernah menjadi panitia?
Dokumentasikan.
Pernah membuat campaign?
Ceritakan.
Pernah ikut lomba?
Tuliskan prosesnya.
Pernah gagal?
Bahkan kegagalan dapat menjadi konten jika ada pembelajaran.
Karena digital footprint yang dibangun sejak sekolah dapat menjadi aset ketika memasuki dunia profesional.
Penolakan Bukan Penilaian terhadap Harga Diri
Ini salah satu musuh terbesar siswa saat belajar sales:
takut ditolak.
Mereka berpikir:
“Kalau saya menawarkan lalu orang bilang tidak, berarti saya jelek.”
Tidak.
Gunakan formula:
NO ≠ YOU ARE BAD
Orang menolak bisa karena:
- belum membutuhkan,
- waktunya tidak tepat,
- budget tidak ada,
- produknya belum sesuai,
- mereka sedang terburu-buru,
- atau banyak alasan lain.
Penolakan terhadap:
penawaran
bukan otomatis penolakan terhadap:
diri kita sebagai manusia.
Memisahkan dua hal ini sangat penting.
Cobalah Berburu Lima Penolakan
Biasanya orang belajar sales dengan target:
“Saya harus mendapatkan lima pembeli.”
Saya ingin membaliknya.
Coba:
Cari lima penolakan.
Tawarkan sesuatu kepada orang.
Targetnya bukan transaksi.
Targetnya:
mendengar kata:
“Tidak.”
Mengapa?
Karena kita sedang melatih sistem mental.
Penolakan pertama mungkin membuat malu.
Penolakan kedua masih terasa.
Penolakan ketiga mulai biasa.
Penolakan kelima:
“Oh, ternyata tidak apa-apa.”
Sekarang rasa takut mulai mengecil.
Ini latihan:
desensitisasi.
Kita tidak menghilangkan rasa takut secara ajaib.
Kita membuat diri terbiasa menghadapinya.
Keberanian Bukan Tidak Punya Rasa Takut
Sering kali kita salah memahami orang berani.
Kita pikir orang berani:
tidak takut.
Padahal tidak.
Orang berani juga takut.
Perbedaannya:
mereka tetap bergerak.
Karena itu keberanian bukan:
absence of fear.
Keberanian adalah:
action despite fear.
Takut posting?
Posting.
Takut presentasi?
Presentasi.
Takut menawarkan?
Coba.
Takut salah?
Belajar.
Kita tidak harus menunggu rasa takut hilang.
Kita hanya perlu memastikan:
rasa takut tidak memegang setir.
Disiplin Lebih Penting daripada Mood
Ada jebakan lain:
“Nanti kalau semangat saya kerjakan.”
Masalahnya:
mood tidak mempunyai kalender tetap.
Kadang semangat.
Kadang malas.
Kadang capek.
Kalau profesional bekerja hanya saat mood bagus, hasilnya tidak akan konsisten.
Atlet tidak berlatih hanya ketika semangat.
Pengusaha tidak membuka toko hanya ketika ingin.
Maka gunakan prinsip:
DISCIPLINE > MOOD
Lakukan karena memang harus dilakukan.
Bukan hanya ketika ingin melakukannya.
Gunakan Formula Lima Menit untuk Memulai
Sering kali bagian tersulit dari pekerjaan bukan:
mengerjakan.
Tetapi:
memulai.
Karena itu gunakan:
Formula 5 Menit.
Kalau malas membuat konten:
“Saya kerjakan lima menit saja.”
Kalau malas membuat tugas:
“Buka file, kerjakan lima menit.”
Kalau malas latihan:
“Latihan lima menit.”
Biasanya setelah memulai, hambatan mental menjadi lebih kecil.
Lima menit berubah menjadi:
15 menit.
30 menit.
Satu jam.
Yang penting:
mulai.
Initiative Membuat Siswa Berbeda
Ada dua tipe orang di dunia kerja.
Tipe pertama harus selalu ditanya:
“Sudah dikerjakan?”
“Sudah dikirim?”
“Sudah selesai?”
Tipe kedua datang mengatakan:
“Pak, ini sudah selesai. Ada lagi yang bisa saya bantu?”
Siapa yang lebih mudah dipercaya untuk memegang tanggung jawab lebih besar?
Tentu tipe kedua.
Itulah:
initiative.
Melakukan hal yang memang perlu dilakukan tanpa selalu menunggu instruksi.
Di dunia profesional, initiative sangat berharga.
Karena perusahaan tidak hanya membutuhkan:
people who can follow instructions.
Mereka juga membutuhkan:
people who can see what needs to be done.
Empat Keberanian yang Harus Dimiliki Siswa Pemasaran
Di akhir materi, saya merangkumnya menjadi:
4 Keberanian
1. Berani Menawarkan
Produk sebagus apa pun tidak menghasilkan dampak jika tetap tersembunyi.
Kita perlu belajar mengatakan:
“Saya punya sesuatu yang mungkin bisa membantu.”
2. Berani Berbicara
Ide hanya hidup dalam pikiran sampai kita mampu menjelaskannya.
Berlatihlah presentasi.
Bertanya.
Berkomunikasi.
3. Berani Posting
Bukan untuk mengejar viral.
Tetapi untuk:
membangun bukti digital.
Dokumentasikan proses.
Bangun LinkedIn.
Bangun portfolio.
4. Berani Ditolak
Karena tidak semua orang akan mengatakan:
ya.
Dan itu tidak masalah.
Penolakan adalah bagian dari proses.
Masa Depan Bukan Milik yang Paling Banyak Menunggu
Ada siswa pintar yang menunggu.
Menunggu siap.
Menunggu percaya diri.
Menunggu mood.
Menunggu guru menyuruh.
Menunggu kesempatan datang.
Ada siswa lain yang mungkin secara akademik biasa.
Tetapi:
mencoba.
bertanya.
posting.
menawarkan.
gagal.
mencoba lagi.
Dalam jangka panjang, siapa yang lebih cepat berkembang?
Sering kali orang kedua.
Karena ia mempunyai:
experience.
Dan experience menghasilkan:
competence.
Sales Skill Membantu Membangun Masa Depan
Bagi siswa pemasaran, sales bukan hanya mata pelajaran.
Bukan sekadar materi.
Bukan hanya tentang menjual barang.
Sales melatih:
- komunikasi,
- keberanian,
- resilience,
- problem solving,
- empathy,
- initiative,
- discipline,
- personal branding.
Semua itu adalah:
future skills.
Jadi kalau hari ini Anda merasa:
“Saya tidak punya bakat jualan.”
Tidak masalah.
Anda tidak membutuhkan bakat untuk memulai.
Anda membutuhkan:
keberanian.
Karena bakat yang tidak pernah digunakan tidak menghasilkan apa-apa.
Sebaliknya, keberanian kecil yang terus diulang bisa berubah menjadi:
skill.
jam terbang.
kepercayaan diri.
dan akhirnya:
kompetensi.
Masa Depan Dibangun dari Langkah Kecil Hari Ini
Saya ingin siswa SMK Yapis TIK Biak Numfor memahami bahwa masa depan bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul setelah lulus.
Masa depan sedang dibangun:
hari ini.
Ketika mau mengerjakan tugas dengan serius.
Ketika membuat LinkedIn.
Ketika berani posting karya pertama.
Ketika berani bertanya.
Ketika menawarkan produk.
Ketika ditolak.
Ketika bangkit.
Ketika mencoba lagi.
Setiap aktivitas kecil tersebut sedang membangun:
versi diri masa depan.
Jadi jangan menunggu percaya diri.
Jangan menunggu sempurna.
Jangan menunggu bakat.
Mulailah.
Karena:
ACTION → EXPERIENCE → CONFIDENCE
dan pada akhirnya:
keberanian yang terus dilatih akan berubah menjadi kemampuan.
Masa depan bukan milik mereka yang menunggu sampai semuanya terasa siap.
Masa depan lebih terbuka bagi mereka yang berani memulai sebelum merasa siap.
Apakah sales membutuhkan bakat?
Sales tidak harus berasal dari bakat bawaan. Kemampuan menjual dapat berkembang melalui latihan, pengalaman, kemampuan mendengarkan, bertanya, memahami kebutuhan, menawarkan solusi, dan menghadapi penolakan secara berulang.
Apakah orang pendiam bisa menjadi sales yang baik?
Bisa. Orang pendiam bahkan dapat mempunyai keunggulan dalam observasi dan active listening. Sales profesional tidak dinilai dari seberapa banyak ia berbicara, tetapi dari kemampuannya memahami kebutuhan dan membangun kepercayaan.
Bagaimana cara membangun percaya diri dalam sales?
Jangan menunggu percaya diri sebelum mencoba. Gunakan pola Action → Experience → Confidence. Mulailah dari tindakan kecil, dapatkan pengalaman, evaluasi, kemudian ulangi. Kepercayaan diri biasanya tumbuh setelah seseorang memiliki pengalaman.
Bagaimana cara mengatasi takut ditolak saat jualan?
Pisahkan penolakan terhadap penawaran dari penilaian terhadap diri sendiri. Prinsipnya adalah No ≠ You Are Bad. Latihan seperti mencari lima penolakan dapat membantu seseorang terbiasa menghadapi kata tidak tanpa menganggapnya sebagai kegagalan pribadi.
Mengapa LinkedIn penting untuk siswa SMK?
LinkedIn dapat menjadi etalase profesional yang mendokumentasikan project, kompetisi, sertifikat, pengalaman, tulisan, dan karya siswa. Ketika memasuki dunia kerja, dokumentasi tersebut membantu memberikan bukti atas kompetensi yang dimiliki.
Apa framework sederhana untuk melakukan penjualan?
Gunakan SEE → ASK → LISTEN → OFFER. Amati kondisi calon pelanggan, tanyakan kebutuhan, dengarkan jawabannya, kemudian berikan penawaran yang relevan sebagai solusi.
Apa empat keberanian penting bagi siswa pemasaran?
Empat keberanian tersebut adalah Berani Menawarkan, Berani Berbicara, Berani Posting, dan Berani Ditolak. Keempatnya membantu membangun komunikasi, portofolio, mental, dan kesiapan memasuki dunia profesional.